Siapakah Koba?

Dawn-of-the-Planet-of-the-Apes-Premier-Prompts-Review-of-the-Rise
Koba in action. Sumber gambar: dignitasnews.com

Koba mengendap-endap di batang pohon, mengintai Caesar di kejauhan yang sedang merayakan kebahagiaannya. Matanya terpicing, lalu diangkatnya senjata dan diarahkan tepat ke dada sang pemimpin. Mata mereka beradu sejenak. Caesar heran, dan penasaran. Tak sempat terjawab karena sebuah peluru meluncur tepat ke dadanya. Menjatuhkannya dari singgasananya. Sementara tak jauh dari situ, api menjalar perlahan, menggerogoti setiap harapan yang pernah mereka bangun bersama. Continue reading “Siapakah Koba?”

Advertisements

Musim dan Natal

Masih kuingat jelas perkenalanku dengan musim. Saat itu Bapakku sedang menyerut bambu, sembari sesekali mengukur benang, seperti pada lagu. Kertas minyak yang warna-warni dipadukan dengan bambu tipis yang handal melengkung, membentuk satu bangun datar yang sebesar diriku. Terlalu besar. Hingga satu hari dihabiskan kepayahan untuk sekedar membawanya terbang. Untuk menggenapi keberadaannya. Di musim layangan.

Di musim itu, segala petak kosong di setiap jalan akan dipenuhi orang-orang yang mendongak, berusaha untuk mengontrol layangan kebanggaan mereka. Bentuknya kurang lebih sama, tapi benangnya yang jadikan beda. Langit pun jadi arena pertempuran yang seru. Dan, Tas! Satu layangan, sang pengelana angkasa, gugur dan jalanan pun segera dipenuhi anak-anak yang berlarian menuju lokasi jatuhnya layangan sambil berteriak: Leong! Leong! Hanya anak yang cukup tangguh untuk berlari mencari, hingga kadang sampai memanjat pohon, yang berhak mendapatkannya. Continue reading “Musim dan Natal”

Busway Dalam Renungan


Sumber gambar : http://www.cpartikel.com

Bagi mereka yang buta dengan peta lalu lintas Jakarta, kehadiran busway[1] bisa jadi pelita di tengah kegelapan. Yah mungkin bukan pelita yang terang-terang amat, mungkin lebih mirip pelita yang redup redam, atau mengambil frase kesukaan mamak saya : “Yang cukup-cukup makan”. Itu karena kondisi busway juga memang tak semuanya baik. Malah beberapa keliatan seperti bus lintas sumatera yang baru dirampok bajing loncat. Tapi ya begitulah, sejelek-jeleknya pelita, setidaknya dia menerangi.

Saya katakan menerangi karena itulah yang saya rasakan pertama kali saat menginjak ibukota negara yang tercinta itu. Kurasa anak rayap pun tahu kalau Jakarta adalah kota terbesar di Indonesia dan juga salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, namun “kota besar” seringnya selaras dengan “membingungkan”, dan Jakarta sepertinya sama. Dan pada saat begitulah, busway menjadi pelita. Ini karena semua pegawai busway sepertinya tahu posisi hampir semua lokasi di jakarta, halte terdekat, dan koridor yang melalui halte tersebut, hingga sangat memudahkan mereka yang baru di kota ini. Keren ya, kayaknya semua yang direkrut harus punya nilai geografi yang bagus, terutama dalam pelajaran peta buta. Makanya kalau saya sudah bingung ada di bagian kota yang mana dan tak tahu arah pulang, saya biasanya langsung terjun ke halte terdekat, dan simsalabim, saya sudah kembali berada di kosan (ya tentu setelah dipercepat beberapa jam).

Namun sebagai anak busway yang berbakti, saya merasa kehadiran busway menjadi berarti bukan hanya karena itu. Ada beberapa pelajaran yang sudah saya rimang-rimangi terkait perjalanan saya berbusway ria beberapa bulan terakhir. Berikut saya rangkum dalam 3 poin :

Continue reading “Busway Dalam Renungan”

Mall

Sumber gambar : jakartanian.blogspot.com

Saya tak pernah menyukai mall. Setidaknya itu yang saya yakini saat pertama kali menginjak (untuk tinggal di) Jakarta beberapa bulan yang lalu. Dan pernyataan itu sepertinya sudah terpatri di bawah alam sadar saya sejak lama, sebelum saya paham pengertian dari kata mall itu sendiri. Tapi bukan berarti saya anti-mall. Saya hanya tidak suka. Juga bukan berarti saya punya pengalaman buruk dengan mall. Justru bisa dibilang saya punya pengalaman yang cukup ”indah” dengan mall, karena sewaktu kecil dulu (kecil disini maksudnya usia ya, karena kayaknya sampai sekarang badan saya masih juga kecil haha) setiap setahun sekali di akhir tahun, Mamak selalu membawa saya belanja sepatu dan baju baru ke Medan Mall ataupun Pajak (baca: pasar) Sambu yang ada di sebelahnya. Namun sepertinya pengalaman manis itu tak sepenuhnya dapat membuat saya menyukai mall.

Saya tak pernah menyukai mall. Entah apa alasan pastinya saya pun tak tahu. Itulah kenapa sewaktu di Bandung dulu, saya selalu gerah kalau kawan-kawan mengajak berkumpul di mall, untuk sekedar bercanda tawa atau bertukar kangen. Selalu ada bisikan untuk menolak untuk kemudian mengarahkannya ke tempat lain asal bukan mall, tapi berhubung tempat makan yang saya tahu cuma warteg di depan kosan, yah maka mau tak mau saya ikut suara terbanyak saja.

Mungkin karena saya rasa mall itu membosankan, karena terlalu meriah dan ribut, dan juga penuh senyum-senyum palsu yang menunggu untuk diabaikan. Bagi saya, mall adalah sebuah ruang yang penuh tipu daya di segala sisinya. Aneh ya, padahal saya sendiri adalah seorang (maunya) desainer grafis, yang seharusnya hidupnya ada di “pasar-pasar”, ya salah satunya mall ini. Padahal saya adalah (calon) dokter bedah sebuah merek, yang diharapkan mampu melahirkan wajah-wajah cantik hasil operasi, yang kelak akan mampu mendongkrak penjualan barang-barang bermerek tersebut. Saya seharusnya menjadi seorang arsitek dari hingar bingar sebuah promosi, dan karenanya harus lah menyukai hingar bingar itu sendiri. Namun ternyata tidak, saya tak pernah suka, dan sepertinya tak akan pernah suka. Setidaknya sampai saya mencoba mengais rupiah di Jakarta.

Ketidaknyamanan saya dengan mall mungkin tidak salah, tapi sepertinya tak lengkap. Karena ketidaknyamanan dengan mall itu hadir ketika saya masih berada dalam zona nyaman: Di Medan saat sekolah dulu ketika tidur-tiduran di rumah adalah wahana paling nyaman (ditambah saat itu saya percaya kalau banyak tidur itu bisa bikin banyak lemak, dan ternyata gagal), dan di Bandung saat kuliah dulu ketika jalan-jalan menikmati angin di tepi jalan tak otomatis membuat jiwa dan ragamu terancam. Atau dengan kata lain, ketika kehidupan di luar mall masih terasa nyaman.

Continue reading “Mall”

Gumam-Gumam Tengah Malam : Vicky Riwayatmu Kini

mau-tahu-arti-kata-konspirasi-kemakmuran-ala-vicky-prasetyo_46c6e

Siapa yang tak terpingkal dengan “kejeniusan”  Vicky dalam mengumbar kalimat di media massa beberapa waktu lalu? Pemilihan katanya yang tak biasa, ditambah raut muka “sok serius” (atau jangan-jangan dia memang serius ketika mengatakannya?) dan gaya parlente mengukuhkan citranya sebagai  pria yang sok intelek plus tukang cari perhatian. Citra itu semakin diperkuat dengan mencuatnya rekaman-rekaman yang menunjukkan jejak langkahnya sebelum banyak disorot media massa, yang sayangnya  juga cukup membuat kita tepok jidat berjamaah. Kita belum lagi berbicara tentang curhat-curhatan manja wanita-wanita yang katanya pernah di… waduh kenapa jadi menggosip begini yak? Haha.

Hadirnya Vicky menambah deretan koleksi ikon dalam katalog budaya viral yang berhasil dibentuk media massa, setelah sebelumnya ada Arya Wiguna, Rhoma Irama, Farhat Abbas dan masih banyak lagi. Kehadiran mereka memang patutnya kita syukuri, karena berhasil menghadirkan tawa di tengah konflik horizontal yang berkepanjangan, carut marutnya keamanan negara dan jatuhnya nilai rupiah (yang walaupun sampai sekarang saya belum terlalu paham apa efek negatifnya :P).

Namun “kejenakaan” yang mereka hasilkan menjadi masalah ketika kita hanya menganggap mereka sebagai “yang lain”. Sebagaimana pensil baru dapat dikatakan pensil jika dan hanya jika ada “yang bukan pensil”, maka Vicky juga mengambil tempat sebagai “yang bukan kita”, yang kemudian mengesahkan keberadaan kita. Dia kita bentuk menjadi “yang tidak keren” demi mengesahkan kita sebagai “yang keren”. Dia menjadi “yang norak”, untuk mengesahkan kita sebagai “yang tidak norak”. Dia menjadi “yang sok intelek” untuk mengesahkan kita sebagai “yang tidak sok intelek”. Sayangnya, “yang lain” itu pun seringkali dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali asing, dan tak sedikitpun terhubung ataupun memiliki bagian yang sama dengan diri kita. Sebagaimana pilihan berganda, kita dihadapkan pada pilihan apakah harus memilih Vicky sebagai yang terhina atau kita sebagai yang tidak hina. Seakan-akan di antara kedua pilihan itu hanya terdapat satu jawaban yang benar, dan dengan menjadi “bukan Vicky” kita lalu terbebas dari “keanehan intelektual” yang hanya menjadi monopoli sang Vicky.

Pola pikir ini yang kemudian berpotensi membawa kita ke dalam jurang kepongahan. Karena dengan menjadi “bukan Vicky”, kita lalu menjadi pihak yang bersih, yang tak perlu melakukan refleksi dan koreksi diri. Kita menjadi pihak yang jemawa dan terlalu percaya diri, hingga leluasa untuk menghantamkan telunjuk bagi mereka yang “seperti Vicky”. Kita memberi label dan menghakimi mereka yang berada dalam kasta sosial paling rendah masyarakat digital ini. Tentunya dengan cara-cara yang hanya bisa dimengerti oleh kaum “bukan Vicky”.

Kecenderungan inilah yang juga pada akhirnya akan menjerumuskan kita, menjadikan kita generasi munafik. Dimana kita akan dengan mudahnya menertawakan istilah-istilah “asing”nya Vicky, namun yang di lain waktu, lebih memilih untuk menggunakan bahasa asing untuk sekedar mengucapkan “selamat pagi” pada sang pacar, ataupun ketika lebih memilih untuk menggunakan istilah-istilah asing pada kata-kata yang sebenarnya memiliki padanan yang pas dalam bahasa Indonesia. Yang dengan mudahnya menertawakan dangdut koplo sebagai musik kampungan yang menjijikkan, namun di lain waktu mengapresiasi musik-musik diskotik sebagai ruang ekspresi anak-anak muda. Yang dengan mudahnya meludahi aktivitas para koruptor, namun yang di lain waktu, mampu tidur nyenyak ketika menghadiri seminar ataupun kuliah dalam kelas (yang ini saya paling sering! Haha).

Fenomena Vicky, Farhat Abbas dan kawan-kawan sepenanggungannya tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Kondisi sosial masyarakat digital yang serba cepat dan yang dituntut untuk selalu produktif membawa kita ke dalam tingkat kepenatan yang cukup tinggi. Kondisi ini memaksa kita untuk selalu mencari humor-humor baru untuk mengimbangi tuntutan-tuntutan hidup yang juga terus beranakpinak. Sehingga kemudian, mereka yang bertingkah tidak biasa, dengan mudahnya dikemas sedemikian rupa untuk menjadi lelucon-lelucon baru dan kelak menjadi “mainan” baru. Mereka kita paksa menjadi martir bagi hidup kita yang keras ini.

Sayangnya khusus untuk kasus Vicky ini, dia tak sempat merasakan nikmatnya menjadi idola media. Berbeda dengan Arya Wiguna yang untuk beberapa saat mampu memanfaatkan ketenarannya untuk mengumbar kejantanannya di depan media, Vicky kini meringkuk di tahanan untuk sebuah kasus yang sulit dan tak ingin saya pahami.

Sudah beberapa minggu berlalu sejak kemunculan pertama Vicky di depan media massa, dan suasana dunia maya sepertinya mulai adem ayem lagi. Menarik menantikan siapakah gerangan “artis-artis” baru yang akan menghiasi ruang sosial saya nantinya. Namun saran saya, berhati-hatilah, karena siap atau tidak siap, mungkin saja anda lah yang (sial atau tidak anda yang tentukan) nanti terpilih! Buahaya!

"ehm sebenarnya saya itu berasal dari planet Vulcan" kata Vicky
“ehm sebenarnya saya itu berasal dari planet Vulcan loh!” kata Vicky. Sumber gambar : showbiz.liputan6.com

Siklus Dua Bulan

unfriend scarecrow

Ketika tulisan ini diterbitkan, beberapa akun media sosial saya (FB dan Twitter, selanjutnya akan disebut FT) sedang dinonaktifkan. Hal ini memang saya lakukan dengan sengaja, karena saya sedang menjalani “Siklus Dua Bulan”, yaitu dimana setiap setelah dua bulan aktif, saya akan menonaktifkan FT selama satu bulan penuh. Beberapa kawan yang telah menyadari hal ini memberikan reaksi yang berbeda satu sama lain. Ada yang santai-santai saja, tidak peduli, walau kebanyakan dari mereka justru mempertanyakan dan bahkan memberikan label ‘galau’, ‘labil’ atau sejenisnya.

Reaksi mereka sangat menarik dan mendorong saya untuk mengemukakan beberapa alasan kenapa saya memulai SDB atau Siklus Dua Bulan ini.

1. Tidak Fokus

Kebiasaan membunuh FT sebenarnya sudah saya mulai sejak mengerjakan Tugas Akhir pada kuartal terakhir tahun 2012. Sebagai mahasiswa DKV, mengerjakan TA di kampus gajah ini bagaikan memakai tali gantungan di leher sendiri. Karena berbeda dengan kawan-kawan teknik yang masa berlaku TA-nya bisa sampai satu tahun akademik, pengerjaan TA DKV (dan jurusan desain lainnya) diatur dalam sebuah sistem yang hanya akan berjalan 3-4 bulan saja.

Untuk beberapa orang, hal ini tentu hal yang biasa dan justru memudahkan. Tapi bagi orang yang memiliki tingkat keimpulsifannya ekstrim seperti saya ini (sebagai contoh, saya pernah olahraga lari tengah malam, dari cisitu sampai Togamas Supratman, padahal awalnya pengen beli coklat doang di Simpang Dago), maka hal ini tentu membutuhkan kerja keras yang sangat tinggi, terutama untuk sekedar fokus.

Dalam FT, memang banyak hal baik yang dibagikan, terutama konten-konten motivasional yang menyejukkan hati. Tapi membaca tulisan-tulisan motivasional hanya akan membuai pikiran jika tidak diikuti dengan kerja yang sesungguhnya. Tulisan motivasional juga bekerja bak surat kaleng berantai, misalnya satu kutipan motivasional akan membawa kepada kutipan motivasional lain, yang akan membawa ke artikel motivasional yang juga akan berbuntut ke artikel-artikel motivasional yang lain, yang dimana BERPOTENSI JUGA membawamu ke video-video motivasional yang tidak berujung. Dan semua itu hanya membutuhkan satu sentuhan kecil pada mouse.

Selain konten motivasional, FT juga menyodorkan berbagai hal menarik yang cukup ringan untuk kau kritisi, tanggapi dan telusuri (apalagi kalau ada kecengan) yang sayangnya justru membawamu menjauh dari hal-hal yang seharusnya kau lakukan lebih dahulu. Dan itulah yang terjadi pada saya dulu (sekarang juga sih, tapi syukurlah sudah berkurang sepersepuluh).

Contoh tidak fokus : Bukannya menyusun taktik, papa Guidolin malah menirukan goyang Cherrybelle. Sumber : Getty Images
Contoh tidak fokus :
Bukannya menyusun taktik, Papa Guidolin malah menirukan goyang Cherrybelle.
Sumber Gambar: Getty Images

2. The Chronicle of the Life-yang-gitu-gitu-aja

Bayangkan begini : Kau bangun, melihat jam, sadar kalau kau terlambat bangun, pikiran mulai berkecamuk entah karena apa, lihat kiri kanan, berdiri dari kasur, duduk di depan laptop, terus buka FT.

Terasa familiar?

FT sebagai media sosial memang menjalankan tugasnya dengan baik (dalam sudut pandang lain : mengerikan). Selain informasi, fasilitas yang diberikan juga cukup lengkap untuk membentuk sebuah sistem masyarakat dunia maya, dimana secara tidak langsung kita menjadi anggotanya. Menjadi anggota dari sistem masyarakat dunia maya, berarti kau harus selalu memantau dan berperan serta atas apa yang terjadi, seperti terlibat dalam lelucon-lelucon baru, berita-berita konspirasi illuminati, konflik-konflik kemanusiaan negara tetangga, hingga kampus terbaik mana yang seharusnya Maudy Ayundha masuki (oke mungkin yang bagian terakhir ini hanya berlaku buat saya seorang, tapi konteksnya tetap tak berubah kok), karena jika tidak, maka kau akan ketinggalan zaman, tidak gaul, dan kemudian dianggap anti sosial. Konsekuensi lebih jauhnya? Mulai dari ketinggalan berita diskon, kehilangan status sosial,  dan bahkan tersingkir dari komunitas. Tambah lagi, User Interface-nya dirancang sedemikian rupa seolah-olah setiap notification adalah hal yang sangat penting dan mendesak, sehingga seharusnya-sebisanya-dan-baiknya-segera ditanggapi.

Hal itu menjadikan saya seolah-olah hanyalah benda elektronik yang SANGAT bergantung pada arus listrik bernama FT, yang dimana semua teman, keluarga, sanak-saudara saya “dipampatkan” dalam suatu entitas. Ketergantungan itu, yang kemudian menjerumuskan saya pada hidup-yang-ga-produktif-dan-gitu-gitu aja. Memaksa saya untuk memulai siklus yang namanya ga menjual ini.

Di masa depan, sulap melepaskan diri dari mouse mungkin akan menarik lebih banyak penonton daripada sulap-narik-apapun-pake-gigi andalannya Limbat.  Sumber Gambar : surahyo.blogspot.com/
Cih. Pasti dia mau pamer sulap online kepada kawan-kawan satu jejaringnya. 
Sumber Gambar : surahyo.blogspot.com

Tapi bukan berarti saya menganggap FT hanya sebagai produk yang isinya omong kosong belaka. Saya bukanlah seorang tua konvensional yang menolak segala jenis inovasi teknologi. Karena pastinya kecanggihan teknologi juga membawa banyak dampak positif bagi umat manusia yang unyu-unyu ini.  Tapi ketika hal-hal itu mulai terasa berlebihan, mengekangmu dan menjauhkanmu dari tujuanmu semula, tentunya harus ada langkah-langkah krusial yang harus diambil dengan segera. Mematikan FT hanya salah satu contohnya. Marathon lari keliling pulau terluar Indonesia juga bisa. Semua tergantung tingkat kecanduan dan tenaga yang tersisa. Horas!

NB. Buat kawan-kawan yang juga mulai jemu dengan FT tapi merasa Siklus Dua Bulan atau marathon keliling pulau terluar Indonesia sebagai tindakan yang berlebihan, kurang duniawi, terlalu kontemplatif atau berpotensi merusak track record pedekate, mungkin bisa mencoba extension StayFocusd pada Google Chrome. Langkah awal yang pas untuk mengekang libido bermedia sosial. Salam.

Dirgahayu Indonesia!

 

 

Video di atas adalah sebuah film dokumenter berjudul The New Rulers of the World (2001) karya John Pilger dan Alan Lowery, yang mengangkat tema globalisasi dan efeknya terhadap negara-negara berkembang, salah satunya (yang tentunya sudah kita duga) : Indonesia.

Walaupun dibuat hampir belasan tahun yang lalu, namun film tersebut masih dapat menggambarkan dengan tepat mengenai ketimpangan yang terjadi dalam negeri tercinta ini. Entahlah, mungkin kado terbaik adalah sebuah tamparan. Agar kita bisa bangun dari romantisme sebagai negeri kaya yang selalu butuh dinina-bobokan. Ayo maju terus bung! Maju terus hingga tiba saatnya nanti kita bisa katakan lagi: GO TO HELL WITH YOUR AID!