Puncak Gede

Apa yang kita cari dari sebuah pendakian?

Pertanyaan itu mungkin tak akan pernah mengusikku begitu hebat jika tak kurasakan Puncak Gunung Gede di akhir minggu itu. Puncak gunung yang kuharapkan senyap itu nyatanya seperti pasar pagi, yang tumpah ruah. Sejauh mata memandang yang ada hanyalah manusia. Yang unik dengan tingkah lakunya masing-masing.

Keramaian itu menjemukan. Terlebih jika kau rasakan di tempat dimana seharusnya sunyi merayakan diri. Dan semilir angin menjadi pelepas letih. Seharusnya. Tapi nyatanya, bagaikan pemburu, keramaian tak kenal malu untuk merenggut setiap ruang yang tersisa.

Menginginkan gunung menjadi semacam tempat meditasi yang hening tentunya adalah bentuk keegoisan pribadi. Tak seorang pun berhak mengklaim alam semesta sebagai miliknya pribadi, dan dengan demikian menjadikan setiap orang berhak menikmati alam semesta. Dengan jumlah manusia yang banyak dibandingkan dengan gunung yang lebih sedikit, maka keramaian di puncak gunung di akhir minggu adalah sesuatu yang seharusnya diprediksi. Dan selayaknya dimaklumi.

Jika begitu, layakkah aku menggerutu?

Mungkin karena kurasa, “keramaian” itu identik dengan “berantakan”. Dan keagungan sebuah gunung pun tak mampu membuat keramaian untuk tunduk. Untuk tak membuatnya berantakan. Sampah yang berserakan. Ukiran nama yang tak elok. Seakan jadi imbalan yang diberikan kepada semesta yang sudah memberikan sejuknya untuk kita peluk.

Lalu untuk apa kita memulai sebuah pendakian, jika pada akhirnya, hanya meninggalkan masalah?

Apa yang kita cari dari sebuah pendakian?

Seorang pria yang kutegur saat sedang menuliskan mahakaryanya di pembatas kawah di Puncak Gede hanya tersenyum canggung sebelum melanjutkan lagi mahakaryanya itu. Melihat reaksinya itu aku cuma bengong, sembari berjalan menjauh. Manusia adalah hewan bersimbol. Pernah kubaca itu entah dimana. Perilaku sang seniman besar di pinggir kawah itu seakan menegaskan hal itu. Ia seakan membutuhkan simbol untuk menegaskan eksistensinya. Sebagai bukti bahwa ia pernah bernafas di atas Puncak Gede. Dan sialnya, pembatas kawah itu kena getahnya. Namun jangan-jangan ia tak salah sebenarnya, karena melihat banyaknya mahakarya yang ditorehkan, maka sepertinya hampir semua orang merasa demikian.

Di pinggir kawah, orang-orang berfoto dengan gayanya masing-masing. Aku juga sama. Untuk apa? Untuk bersanding dengan sebuah keagungan. Dan awan, gunung, kabut pun jadi seperti bedak dan gincu yang ditorehkan pada muka yang tak rupawan. Ada keinginan untuk memerangkap keindahan itu ke dalam media yang dapat kita genggam, hingga dapat kita pandangi setiap malam. Kepalaku berandai-andai: Bagaimana jika tak ada foto dalam setiap pendakian? Benarkah ada pendakian itu? Apakah pendakian itu menjadi sah, jika hanya ada arsipnya walau dalam bentuk yang jauh dari sempurna? Apakah pendakian itu menjadi sah, jika hanya ada pihak-pihak lain yang mengapresiasinya? Tak sanggupkah jika hanya kelima indera ini saja yang merekamnya, agar kita tak perlu habiskan waktu merancang gaya dan mengolah rasa, hingga dapat fokus merasakan apa yang ada di depan mata?

Ah, entah kenapa aku teringat Musa. Apa yang dia cari di atas Gunung Sinai?

Advertisements

Renungan Malam Minggu

Ada yang tak biasa di Bumi Perkemahan Ragunan malam itu. Senandung musik reggae dengan lirik-lirik perjuangan mengalun semarak, ditemani cahaya yang berhamburan dari atas panggung. Di bawahnya, ribuan anak manusia berselendangkan peluh. Larut dalam kegembiraan.

Itu bukan konser biasa. Karena sebagian besar dari ribuan anak yang menikmati musik saat itu adalah anak-anak jalanan. Ya, mereka adalah anak-anak, dari kecil hingga remaja, yang “dipelihara” oleh jalanan, yang dibimbing oleh asap knalpot dan teriknya mentari di Ibukota. Mereka adalah anak-anak yang direnggut masa kecilnya oleh tuntutan kedewasaan. Dan di Bumi Perkemahan Ragunan ini, selama dua hari satu malam lamanya, mereka “diculik” dari bapak dan ibunya oleh para relawan yang mengatasnamakan Sahabat Anak. Dua hari tanpa asap knalpot. Dua hari tanpa tuntutan untuk mencari uang.

Kota besar sepertinya identik dengan keberhasilan. Ialah tujuan bagi mereka yang merantau. Sebuah tempat dimana mimpi besar berharap dapat diwujudkan. Seperti gula yang menarik perhatian semut, kota-kota besar menarik hampir seluruh penduduk Indonesia. Ia merayu jiwa-jiwa muda yang tak mengenalnya. Banyak yang menang, memang. Tapi yang sering tak kita sadari, di balik setiap punggung pemenang, selalu ada pihak yang tak disorot lampu. Mereka yang menundukkan kepala di pojok arena. Mereka yang dipaksa kalah. Continue reading “Renungan Malam Minggu”

Passenger – Scare Away The Dark

Scare Away The Dark

Well, sing, sing at the top of your voice,
Love without fear in your heart.
Feel, feel like you still have a choice
If we all light up we can scare away the dark

We wish our weekdays away
Spend our weekends in bed
Drink ourselves stupid
And work ourselves dead
And all just because that’s what mom and dad said we should do

We should run through the forest
We should swim in the streams
We should laugh, we should cry,
We should love, we should dream
We should stare at the stars and not just the screens
You should hear what I’m saying and know what it means

To sing, sing at the top of your voice,
Love without fear in your heart.
Feel, feel like you still have a choice
If we all light up we can scare away the dark

Well, we wish we were happier, thinner and fitter,
We wish we weren’t losers and liars and quitters
We want something more not just nasty and bitter
We want something real not just hash tags and Twitter

It’s the meaning of life and it’s streamed live on YouTube
But I bet Gangnam Style will still get more views
We’re scared of drowning, flying and shooters
But we’re all slowly dying in front of computers

So sing, sing at the top of your voice,
Oh, love without fear in your heart.
Can you feel, feel like you still have a choice
If we all light up we can scare away the dark

Lirik dikutip dari www.azlyrics.com

Arti Sebuah Nama

“Apalah arti sebuah nama?” Seorang wanita bertanya padaku, di bawah langit malam, dengan bintang gemerlap seakan merayakan daun yang satu per satu kembali ke tanah.

Aku tertegun.

Bukan yang pertama kudengar pertanyaan itu, dan biasanya kuanggap lalu, karena kurasa klise. Namun kali ini tidak, pertanyaan itu mengganggu dan berhasil membawa pergi kesadaranku.

Apalah arti sebuah nama?

Penting. Karena tanpanya, kau bukanlah siapa-siapa. Tak ada pengenal. Lalu kau akan dipanggil gergaji besi atau bahkan pelangi warna-warni. Siapa yang mau bermain dengan gergaji besi? Aku mau, tapi hanya jika ia benar-benar gergaji besi, bukan manusia berlabel gergaji besi.

Apalah arti sebuah nama?

Aku berpikir lagi : Untuk memberi tanda, bahwa kau adalah bagian dari sebuah garis. Untuk menjelaskan asal-usul sejarah keluarga. Sebab apa asyiknya menjadi yatim piatu di tengah sebuah peradaban yang disusun oleh mitos dan kebanggaan akan darah yang murni? Dan dengan demikian, menunjukkan bahwa kau terlahir dengan sebuah alasan. Sebuah rencana. Dengan nama, kau adalah pemilik tanah yang sah. Bukan pendatang. Bukan sekedar menumpang.

Juga sebagai indeks. Yang menjelaskan orang-orang sebelum dirimu. Yang menjelaskan bahwa sesungguhnya bapakmu adalah pecinta sepakbola, ibumu adalah pecinta telenovela dan pamanmu adalah pecinta filsafat. Nama adalah ruang keluarga, dimana orang-orang tertentu bebas mengutak-atik isinya.

Juga sebagai kenang-kenangan dari kakek nenekmu. Yang mungkin tak bisa terus hadir hingga masa dewasamu. Dan hanya dalam nama yang mereka hadiahkan padamu di masa lalu lah, mereka bisa hadir dan mendampingi momen besarmu, seperti saat wisuda atau bahkan saat pertama kali sekolah.

Apalah arti sebuah nama?

Sebagai harapan. Bahwa kelak kau akan jadi penggubah dunia. Jadi pencinta Tuhan. Jadi penakluk Semesta. Yang mampu meneguk setiap kesempatan sampai ke dasar gelasnya. Atau jadi ia yang dapat menghilangkan kesenjangan atau yang pertama mampu mewujudkan kedamaian di setiap sudut bumi. Dalam nama, terdapat impian, agar kau dapat jadi perpanjangan tangan bagi mereka yang nafasnya terbatas. Yang tak mampu hidup sepanjang zaman. Dengan nama, kau jadi berharga.

Mendengar jawabanku, wanita itu hanya tersenyum kecil. Kemudian menghilang.

Di tengah kebingunganku, tak jauh dari situ, kulihat sosok yang sepertinya aku kenali. Seorang anak kecil yang lusuh, sedang mengemis di depan pusat perbelanjaan. Dengan ingus khasnya, yang kerap membekas di bawah hidungnya.

Namanya intan.

Jakarta Hari Ini

Dari ia yang merindukan gunung

Jakarta sepertinya punya caranya sendiri untuk mengenalkan kesunyian dan menyuburkan benih kesendirian. Karena sepertinya mereka yang berada di kota ini sudah menjadi maklum akan wajah yang tanpa senyum dan kutuk yang berkeliaran di sela-sela bibir karena gerakmu yang kau harap cepat nyatanya terhambat seperti selokan yang tersumbat.

Mungkin karena di kota ini, Sunyi dan Ramai menikmati berkelahi. Dan tak pernah akur. Mereka selalu ingin menonjolkan muka kala memaksa berada dalam ruang yang sama. Tak mau mengalah. Siang tak lagi milik Sang Ramai, dan malam tak lagi milik Sang Sunyi sendiri.

Sepanjang waktu mereka melakukan apapun untuk merayu orang-orang yang polos, yang menghamparkan cita-citanya di kota ini. Bergelut. Hingga saling memecut diri sendiri. Namun seperti biasa, Ramai hampir selalu jadi pemenang.

Siapa yang tak suka dengan lampu-lampu disko, kerlap-kerlip di taman dan silau cahaya perkantoran? Keramaian menjanjikan kesibukan. Dan mereka yang sibuk seringkali dianggap punya tujuan. Dan karenanya layak dianggap penting. Tujuan, ambisi adalah sesuatu yang memberikan makna pada hidup, sehingga onggokan daging bernafas ini layak dianggap manusia. Keramaian itu memabukkan, dan seperti laron, tak sedikit yang menggilai keramaian, hanya untuk dianggap bermakna.

Sedang Sunyi, hanya kebagian sedikit. Ialah tempat bagi mereka yang terbuang, yang tak bersendal kaki, yang tak mau bermimpi atau sekedar yakin dapat membuat gulali. Sunyi adalah sebuah arena dimana sepasang mata memandang sang jawara diarak dari kejauhan. Sebuah tempat yang seakan sudah ditakdirkan dan direkatkan ke sisi yang paling pinggir. Sebuah tempat bagi mereka yang dianggap tak punya ambisi.

Tapi, Ramai, Sunyi, walau mudah ditangkap mata, seringkali sulit dimengerti. Mudah memperhatikan keduanya memperebutkan raga manusia di kota ini. Tapi dapatkah mereka menguasai jiwa?

Apakah ramai juga jiwa mereka yang raganya berpesta dalam keramaian? Apakah sunyi juga jiwa mereka yang raganya digenggam kesunyian? Pada akhirnya, kisah Sunyi dan Ramai di kota ini adalah kisah perselingkuhan. Kisah tentang pengkhianatan.

Mungkin Jakarta sebaiknya belajar kepada Gunung.

Di atas Gunung, tak ada mall, tak ada lampu taman, tak ada wanita bersuara merdu nan berkaki langsing. Sepi. Sunyi. Tapi justru dengan begitu, kau bisa lebih merayakan Ramai: Gesekan daun. Gemerisik air sungai. Kicau burung yang bersahut-sahutan. Derai nafas yang panjang-pendek. Dan derap langkah yang perlahan. Tanpa distraksi.

Di atas Gunung, Sunyi dan Ramai mesra.

Seperti sepasang kekasih abadi.

Di Pertengahan 2010

Yang saya suka dari menulis adalah bahwa kegiatan ini memampukan saya merekam momen-momen penting yang terjadi dalam hidup saya. Definisi “penting”nya tentu subjektif, sehingga beberapa momen mungkin terlihat “sangat tidak penting” bagi orang-orang yang tidak terlibat langsung. Dengan adanya rekaman-rekaman itu, saya dapat dengan mudah menyelami kembali momen itu, walau sudah lama berlalu. Tujuannya? Yah bisa dibilang nostalgia.

Dengan membaca tulisan lama, saya seperti berpindah ruang dan waktu. Seakan mengalami kembali kejadian itu. Tentunya dengan sudut pandang yang berbeda. Namun tidak hanya itu, dengan menyelami tulisan-tulisan lama, saya cenderung disuntikkan lagi semangat ataupun motivasi yang tersimpan dalam tulisan lama itu. Entah itu tentang tulisan membara ultra konyol semacam “saya harus cumlaude”, atau perihal keceng-mengeceng. Dan biasanya itu terjadi setelah saya menertawakan diri saya yang dulu.

Tulisan lama juga seakan menjadi arsip pemikiran saya. Sehingga saat ini saya bisa menganalisis diri saya sendiri, tentang apa yang membuat gundah atau adakah mimpi-mimpi yang dulu itu sudah saya khianati dan apa penyebabnya.

Terdengar narsis ya?

Saya tak tahu dengan anda. Tapi menurut saya, yang belum ingin mencari nafkah melalui tulisan, orang pertama (dan satu-satunya) yang harus dipuaskan dalam menulis adalah diri sendiri. Pernyataan ini tentu terdengar egois, tapi ini karena saya merasa bahwa setiap orang harus punya ruang pelariannya sendiri, tempat dimana tak ada seorang pun yang boleh menilai salah benarnya atau jelek tidaknya hal yang dilakukannya. Saya katakan ruang pelarian karena ya memang fungsinya sebagai tempat mengisi semangat dan melarikan diri dari rutinitas. Bukan ruang kreatif, karena di ruang pelarian, kita tak dituntut untuk jadi kreatif atau tidak kreatif. Bukan pula menjadi hobi, karena kita tak dituntut untuk melakukannya berkali-kali. Dan dalam beberapa tahun ini, menulis menjadi ruang pelarian saya.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin menampilkan kembali salah satu tulisan yang pernah saya tulis di facebook di tahun 2010. Tulisan ini berasal dari salah satu pengalaman saya yang menarik, yang menjadi tamparan bagi mentalitas deadliner saya (yang anehnya masih bertahan sampai sekarang). Saya hadirkan disini sebenarnya buat jaga-jaga, siapa tau besok facebook bangkrut dan tulisan saya hilang (sebenarnya saya juga takut wordpress yang bangkrut, tapi jika itu yang terjadi tak masalah, biar hilang satu hilang semua). Ah sudahlah, silahkan terjerumus!

 

——————————————————————————————————————————————————————-

 

Jam 7.00 pagi hari, mata ini terbuka, mendapati diri berada di Sunken court W-06[1]. Di sebelah, ada kawan2 uksuers lain yang turut melepas penatnya malam tadi di sekre tercinta, masih tidur mereka, dengan gaya yang hina pula, yang tak pantas dipublikasikan disini demi kehormatan mereka. Dan cuma lek arion yang sudah bangun, bersiap menuju tempat KP katanya.

Berhubung hari ini saya akan pulang ke home sweet home (20.40 wib), maka tak butuh pikir lama untuk memutuskan kembali ke kos, persiapan pulang rencananya. Namun hati ini tak sanggup jua mengalahkan godaan bermain PES 2-3 pertandingan, dan waktu pun menunjukkan pukul 09.00 pagi. Masih belum panik saya, sudah biasa begini, biasalah mahasiswa , tak ada kemenangan yang lebih indah selain mengecoh deadline. Lalu entah kenapa teringat sms sang ibu, “nanti beli jaket untuk adekmu ya”, (aslilah busted,) si panik mulai tertawa, belum lagi beli oleh2 buat empunya rumah, beuh, yasudahlah, akhirnya dengan terburu semuanya terbeli juga, kembali di kos saya jam 2an, firasat buruk mulai terasa saat saudara Herman menelepon dengan bijaknya, “lek, kita hari ini berangkat ya?”. Sedih campur prihatin saya pun mengiyakan pertanyaannya itu. Polos memang dia. Aku terharu.

Singkat cerita, jam 3 lewat (banyak), aku pun menuju kampus, perasaan was-was takut dihina teman yg lebih hina, akupun berburu. Namun sayang kepala peyang, sampai disana, yang ada hanya saudara herman, betman, dan jeisen yang sedang bermain kartu. Tak ada kelihatan saudara Erhin (Erwin hina :D) yang notabenenya adalah teman saya pulang bersama saudara herman. Dan akhirnya, sebagai teman yang keren dan baik hati, kami pun menunggu dengan sabar (baca: main kartu), namun pantat ini semakin gelisah, geli tapi ga basah, karena saudara Erwin tak kunjung jua menunjukkan muka.

Akhirnya jam 4 kurang, dia lalu menunjukkan mukanya, tak pernah sesenang ini kulihat dia, tapi gerak-geriknya terlihat mencurigakan, sampai dia kemudian mengucapkan sesuatu yang kejam dari mulutnya,” lek, tasku tinggal”.
Petir pun menyambar, aku pun hanya bisa berkata lirih, “lekas ambil lah lek, berkatNya menyertaimu” (sebenarnya bukan itu yang kukatakan, tapi anggap saja begitu, untuk menutupi kata-kata yang tak pantas yang kuucapkan waktu itu) dan dia pun pergi bersama saudara Betman, (itupun setelah melalui perdebatan yang sangat memilukan akan bisa tidaknya mereka pake motor kopling).

Lama kami tunggu tak muncul jua, sementara waktu menunjukkan pukul 16.20, lalu dengan intuisi bijak dan diskusi hangat dengan lek Herman dan massa uksuers lainnya (yang sebenarnya tak banyak membantu), kami pun memutuskan pergi ke X-trans Cihampelas dahulu, berhubung masih ada 3 tempat sisa lagi untuk jam 16.30. Secepat kilat kami pun ligat, tak ada taksi ojek pun jadi, sementara dalam perjalanan di ojek, aku tak henti-hentinya nelpon lek Erwin, maksudnya biar dia langsung nyusul ke cihampelas, brilian bukan? Namun lagi-lagi hasilnya mengecewakan, tak ada jawaban, kawan. Hampir puluhan kali kutelpon, tak diangkat juga, tiba2 aku teringat berita di tv, tentang tabung gas yang meledak di kosan, mungkinkah? Ah ga mungkin., dia terlalu hina untuk mati pikirku. Continue reading “Di Pertengahan 2010”

Bendera dari Pinggir Kali

Aku ingin tahu apa yang ada di kepalamu. Saat kau kancingkan bajumu, satu persatu. Dengan rambut yang masih basah, dan senyum yang tergesa-gesa, kau pakai lengkap kostummu hari ini. Tanpa nama. Putih merah warnanya.

Aku ingin tahu apa yang dipikirkan Sang Bumi. Saat kaki kecilmu yang telanjang melangkah ringan di atas tubuhnya, keluar dari kamarmu yang bau itu. Sembari mendendangkan kepingan lirik dan butiran melodi yang telah kau hafal, sejak pertama kau kenal suara.

Aku ingin tahu apa yang dipikirkan Sang Angin, saat Ia mengibas perlahan rokmu yang menyala itu. Saat Ia mendengar dengus nafasmu. Saat Ia mengantarkan dentingan nada demi nada dari ukulele soak yang kau mainkan dengan jarimu itu ke telinga mereka. Adakah Ia antarkan juga cita-citamu?

Aku ingin tahu apa yang dipikirkan Bapak dan Ibumu saat melepasmu pergi. Saat buah hati yang tak sampai sewindu usianya, bertarung di sendiri. Di bawah kilau cahaya. Adakah mereka khawatir: pulangkah kau hari ini?

Aku ingin tahu apa yang dipikirkan Rembulan. Saat warna yang selalu dibanggakan Mentari, kini terpampang di hadapannya. Merah dan Putih terkoyak di jalan raya.