#5 Warnet

Ngentot!

Aku tersentak dan mencari sumber suara. Topinya diputar ke belakang, kakinya diangkat satu, bersandar ke pinggir meja. Di sudut sana dia berkata tanpa ragu. Kelihatannya masih SD.

Nampaknya biasa, itulah kenapa tak ada yang terganggu dengan ucapannya. Semua terhipnotis pada layarnya masing-masing. Sedang anak itu masih menyumpah sambil melanjutkan pertarungan antar galaksi yang terpampang di komputernya yang retak.

Warnet itu ramai.

Sebagian besar nampak belia. Remaja tanggung. Ada yang menikmati foto monyong kekasihnya. Streaming lagu hip-hop panas. Kebanyakan memang bermain game. Tak ada batasan untuk berselancar selama kau tak mengakses porno. Seperti dunia baru yang bebas. Surga tanpa masalah.

Advertisements

#4 Kita dan Gedung Tua

Rentetan toko ini berkumpul dalam satu kompleks yang gelap. Tak tertata. Nampaknya masih digunakan namun seperti tanpa cinta. Mungkin biaya sewanya sendiri sudah sangat mahal, nihil laba, sehingga menambah sedikit semarak lampu-lampu justru hanya membawa sakit kepala empunya wilayah.

Adakah guna menambah gincu pada pelacur tua?

Aku berjalan lalu saja. Ada beberapa tenda menjual makanan. Sepi. Ya gila saja makan di sini. Bagai makan di mulut buaya.

Keluar aku dari situ. Kudapati jalan yang ramai dengan ragam lampu yang berlarian. Orang-orang mabuk, terperangkap dalam besi yang hidup. Aku tertegun. Tak peduli gelap dan ramai, kita hanyalah bunga yang kering madunya.

#3 Ruang

Apa yang kita pahami tentang ruang?

Dia, memang diam. Tapi jika kau benar menyimak, dia hidup. Tinggallah beberapa hari sendiri dalam sebuah ruang-sempit-dan kau kan mulai melihat kerat pada dindingnya. Debu pada lantainya. Genangan air pada wastafel. Hingga bekas nanah kakimu kemarin malam yang terhusap kasar di bawah meja. Sontak semua bersuara minta kau sapa.

Ruang untuk melindungi. Di sisi lain, dia membatasi. Minim pembaharuan, hingga akhirnya segala yang mati engkau hidupkan. Maka ruang menjadi refleksi diri.

Mungkin itulah kenapa, penjara berbentuk ruang yang sempit. Agar satu-satunya yang bisa para kriminal nikmati adalah refleksi dirinya sendiri lalu masturbasi hingga mati.

#2 Bahasa Indonesia

Saya selalu tertarik dengan orang yang berbahasa asing. Selain karena terlihat internationale, nampaknya mereka juga terlihat lebih percaya diri. Entah benar demikian atau tidak. Namun selalu ada yang janggal, ketika bahasa-bahasa itu semakin rutin diucapkan dimana dia tidak seharusnya berada.

Kemarin saya melihat anak kecil yang bermain-main dengan orangtuanya. Sekilas tak ada yang aneh memang, namun saya berkenyit ketika dia mulai berkata-kata. Dia, seorang Indonesia, berbahasa asing terbata-bata dengan orangtuanya. Tak pernah sedetik pun Ia berbahasa Indonesia. Pilu.

Bahasa Indonesia memang serba salah. Dia lahir saat masyarakat kita telah punya bahasa Ibunya sendiri, dan naas kini terhimpit globalisasi. Lalu bagaimana?

#1 – Yang pertama

100 kata. Mataku tertambat pada tampilan aplikasi yang belakangan kembali kuinstall di telepon genggamku. Ada jejeran tulisan yang masing-masingnya berjumlah 100 kata. Kontennya apa saja. Fungsinya satu: konsisten. Perihal kesempurnaan, itu miliknya Tuhan, kata Dorce. Lalu aku berpikir, kenapa tidak? Dan bergabunglah aku.

Bagiku, menulis itu layaknya mandi pagi di hari libur. Kita semua tahu, mandi pagi  membuat badan dan pikiran jadi segar, tapi entah mengapa sulit dilakukan. Layaknya menulis. Jelaslah menulis akan menjernihkan karat di otak, tapi entah kenapa begitu berat untuk konsisten. Mengapa berat? Karena sulit itu relatif. Seringnya ya malas saja. Lalu aku akan bercerita apa? Lihat besok ya.

Jakarta yang Cerewet

Bagiku, Jakarta seperti kekasih yang cerewet.

Tak pernah mesra, namun begitu dramatis kehadirannya. Tapi bukankah itu yang kita manusia inginkan? Drama dan liku-liku yang berdarah-darah?

Walau begitu, hanya Jakarta dan malamnya yang mampu membujuk jemari untuk menilik kembali mesin ketik usang lalu kembali berjingkat di atasnya. Seperti lelaki yang keranjingan Foti. Bahkan sensualitas Rote pun tak mampu membuatku begitu.

Lucu ya.

Jakarta memang seperti kekasih yang cerewet. Tak pernah nyaman di dekatnya, namun begitu dirindukan. Lalu berjumpa dan kembali tak nyaman. Lalu pergi. Lalu rindu kembali.

Mungkin karena Jakarta menjanjikan segalanya. Mulai dari abu hingga angkasa. Mulai dari beha limaribuan hingga celana dalam berlian. Mulai dari sepi hingga dengungan. Mulai dari nafsu yang hambar hingga doa yang pamer. Kesemuanya itu yang menjadi energi bagi otakku untuk terpacu dan terpompa lebih dari biasanya.

Dan aku rindu.

Aku merindukan Jakarta seperti merindukan kekasih yang tak kuingini sepenuh hati. Yang keberadaannya hanya sebagai pemicu melankolia. Hanya agar aku punya sesuatu untuk dikeluhkan.