Wabah

Tak pernah sedikit pun dalam mimpi liarku bahwa aku akan berada dalam sebuah wabah. Covid-19 merongrong sejak Desember dan tak tahu entah kapan dia akan berhenti. Waktu dipaksa melambat, jalan-jalan dipaksa diam.

Yang pilu dalam setiap musibah adalah akan ada orang-orang yang terhimpit dan tak tahu harus berbuat apa. Mereka yang berada di bawah piramida kehidupan, yang bertumpu pada upah harian dan tak punya kuasa atas nasib mereka sendiri. Mereka yang selama ini berpegangan erat pada kesepakatan kerja yang rapuh dan bisa runtuh kapan saja.

Uniknya, pengambil keputusan negara ini memberi himbauan tanpa memberi kepastian akan keamanan pekerjaan mereka. Ya, aku diminta tinggal di rumah, lalu apa? Apakah keluargaku bisa makan kalau begitu? Pasti itu pikir mereka.

Wabah, sebagaimana situasi hidup dan mati lainnya, memunculkan sisi tergelap manusia. Cerita-cerita tentang mereka yang meraup untung setinggi mungkin dan orang-orang yang memaksa menimbun pangan untuk mereka sendiri, jadi berita yang kudengar terus dalam keseharian. Yang menjijikkan lagi, bahwa ada kabar orang-orang yang menjual masker bekas di tengah segala kegilaan ini. Bahkan setan pun tak akan bisa selicik itu.

Wabah adalah pertempuran, dan di dalamnya selalu ada pejuang yang mati. Dalam kisah ini, dokter dan perawat yang harus meregang nyawa. Sialnya, sebagian besar karena kurangnya alat pelindung diri (APD) yang seharusnya bisa dicegah jika memang negara kita bekerja lebih sigap ketimbang memilih untuk memberi insentif wisata saat Covid-19 menampakkan dirinya.

Namun selalu ada harapan di setiap pertempuran. Aku melihat inisiatif masyarakat muncul satu per satu seperti rerumputan.

Entah sampai kapan.

Tidak Sengaja

Beberapa hari yang lalu, satu pesawat Ukraina International Airlines yang baru saja lepas landas dari Teheran jatuh dalam keadaan terbakar. Bisa ditebak, tak ada yang selamat. Dua-tiga hari, Iran menolak bertanggung jawab. Kerusakan teknis lapornya.

Namun siapa bisa tutupi bangkai di masa sekarang? Baunya merebak tajam, hingga akhirnya Iran mengaku: tak sengaja meluncurkan rudal ke pesawat. Mereka kira pesawat itu ancaman karena bergerak menuju pusat militer rahasia Garda Revolusi Iran, tim elite yang dipimpin Soleimani yang dibunuh AS beberapa hari sebelumnya.

Tak sengaja menembak.

Bayangkan jika ketidaksengajaanmu mengorbankan nyawa 176 penumpang dan kru. Bayangkan jika ketidaksengajaanmu membuat ratusan anak kehilangan orang tuanya, perempuan kehilangan pasangannya dan orang-orang tua harus meratapi sepatu yang terbakar, karena hanya itulah yang tersisa dari anak-anak mereka.

Sulit dipahami betapa nyawa bisa lenyap sekejap mata dan tidak ada yang bisa kita lakukan terhadapnya. Betapa nyawa bisa menjelma jadi sekedar satu dua garis yang membentuk grafik dan statistik di depan layar kaca.

Tak sengaja.

Selamat Datang, Dua Puluh

Baru dua minggu di dua puluh, tapi rasanya seperti selamanya. Berita perang, kebakaran, banjir dan intrik politik di waktu yang singkat itu datang sekonyong-konyong, layaknya bertemu kenalan lama yang sedari dulu kau ingin hindari. Tak ada jeda. Percakapan singkat, distraksi, dan emosi yang berlimpah ruah dipampatkan dalam satu pertemuan singkat. Melelahkan.

Tapi ini lah hidup. Tak akan bisa kau pilih lika-likunya. Yang penting siap, hantam semuanya apapun yang kau temukan di jalan. Dan yang tak mampu, kan digilas roda-roda zaman, oleh mereka yang berlari lebih kencang dengan paru-paru yang lebih besar dan kuat tentunya.

Meski demikian, seburuk-buruknya hidup, dia tetaplah harus dirayakan. Semata-mata karena hingga kini kau masih bernapas dan bernyawa. Dan oleh karenanya masih mampu menyesap setiap denyut kehidupan. Masih mampu mendengar denting gitar, alunan piano dari pemusik favoritmu yang kau putar berulang-ulang setiap kali kau gundah gulana. Kau masih mampu pula merasakan embun pagi yang terpercik ke wajahmu setiap kali kau keluar untuk berangkat lebih pagi. Cukup cari satu alasan dan harimu akan menyenangkan.

Itu yang penting.

Televisi, radio, dan segala jalur informasi akan menghujam kepalamu bertubi-tubi seperti semburan hari kiamat. Mencoba meyakinkanmu untuk pesimis dan ingin mati saja. Tapi satu hal yang pasti, kita masih hidup. Bumi masih berputar. Dan itu yang sepatutnya dirayakan. Perlahan maju. Melawan. Selangkah demi selangkah.

Jadi, selamat datang, Dua Puluh.

Teater

 

Satu per satu lampu dimatikan. Sekonyong-konyong gelap mengerubungi ruangan seperti lebah yang pulang ke sarangnya. Hening melangkah masuk. Tak lama kemudian, tirai terbuka. Cahaya merekah perlahan di belakangnya, memberi makna pada kursi, meja, karpet, lemari dan buku-buku yang tertata. Terlihat bagiku rumah di atas panggung.

Keberadaan teater sekarang ini bagai anomali. Di zaman kala setiap hiburan butuh prasyarat megah, dengan dentuman yang menggelegar, efek visual yang mencengangkan dan inovasi layar tiga dimensi, teater malah masih terpaku menawarkan hal yang kurang lebih sama sejak ribuan tahun lalu.

Ratusan orang di dalam pertunjukan teater duduk diam, berjam-jam di depan panggung yang saklek. Tak ada iklan, tak ada ledakan, tak ada robot tempur ataupun semarak kota-kota metropolitan. Hanya ada penampilan ragam manusia dengan segala rias dan lakonnya, yang menguasai panggung.

Tapi itu pula lah yang membuat teater begitu semarak. Manusia-manusia kecil itu tampak begitu kuat. Berlarian ke sana, ke mari, melompat, berteriak, mengumpat dan menangis sejadi-jadinya. Sebab tak ada yang mereka andalkan lebih dari tubuh mereka sendiri.

Ini menjadikan teater sebagai refleksi paling serupa dari kehidupan. Dalam teater, setiap keping adegan dirajut dalam satu untaian waktu. Tak ada kesempatan mengulang adegan. Tak pula bisa bersembunyi di balik kamera. Satu kesalahan saja bisa begitu fatal, telanjang terpampang di depan ratusan mata yang menyimak. Sama seperti nafas yang tak akan pernah bisa diulang.

Self Talk

Sekala Niskala berputar begitu pelan di layar bioskop dalam studio yang tak penuh setengah. Aku ternganga, bukan karena bagusnya. Tapi lebih-lebih karena tak mengerti saja.

Badanku terasa menyusut. Kantuk menderu, menarik kesadaranku yang sedari tadi berontak untuk tertidur.

Dua orang anak memasang kuda-kuda di atas ranjang sebuah rumah sakit. Muka, badan dan kaki mereka penuh warna. Entah mereka menari atau berkelahi, sungguh enerjik. Menghentak dan jumpalitan dalam satu garis nafas. Mereka adalah Tantri dan Tantra, dua anak kembar yang sepertinya saling merindukan sejak dalam kandungan.

Selain dari pada adegan itu, aku tak bisa menikmati rentetan adegan lain. Tempo yang lambat ditambah dengan latar belakang budaya Bali yang tak sepenuhnya dijelaskan, membuat otakku harus berusaha keras dari biasanya. Aku tak menikmati dan tak mengerti. Aku lelah.

Beginikah rasanya terasing dari seni?

 

Apanya yang Indonesia?

Dua kelompok saling terjang. Dengan tangan mengepal, kaki ayam dan muka kusam, keduanya mengatur aba-aba. Lalu bergantian menyerbu. Seperti dalam adegan film hongkong, bedanya tanpa golok dan kapak. Pelakunya juga bukan preman kelab malam pun mafia narkoba. Mereka ini cuma anak-anak SD yang menghabiskan waktu istirahatnya di sekolah.

 

Anak-anak itu jelas tak serius. Seringnya aku malah dibuat tertawa. Bagaimana tidak? Mereka, dengan badan kurus dan kecil, akan berhadap-hadapan di atas lapangan pasir. Saling menunggu. Kelompok yang “menerjang” duluan akan mengejar-ngejar kelompok lain. Setelah itu, kelompok yang dikejar akan balik mengejar saat kelompok “pengejar pertama” sudah kelelahan. Begitu seterusnya. Bagai menonton ikan teri tawuran aku rasanya.

 

Jelaslah, kan mereka masih anak-anak. Cuma untuk melampiaskan energi berlebih yang tak tersalurkan di dalam kelas. Tak ada niat berkelahi sebenarnya, tapi toh tetap saja banyak “korban”. Terkadang ada yang nendang terlalu kuat. Ada yang gayanya sangar eh tapi letoy, jadinya nangis waktu jatuh. Ada pula yang kepleset waktu nendang, atau beberapa kali yang tidak ikutan malah kena tabrak. Itulah kenapa, aku langsung saja lerai saja kalau melihat mereka mulai pasang gaya. Sebab belakangan, mereka makin total saja nampaknya.

 

“Kitong mau jadi Boy, Pak!” kata Apris, kala kulerai, mewakili sebagian besar suara anak-anak yang melakukan ritual tawuran “ecek-ecek” itu. Aku terharu, anak-anak sekarang lebih memilih jadi anak jalanan ketimbang jadi Ultraman.

 

Boy, si tampan dari kota, bintang sinetron Anak Jalanan itu berhasil memikat anak-anakku di pantai timur Pulau Rote, ribuan kilometer jauhnya. Hebat kan? Sekarang bayangkan kalau anak-anak itu meniru Rizieq Shihab, atau tokoh lain yang sering mengumbar kebencian pada kaum yang berbeda pandangan dengannya.

 

Iya, sebenarnya aku cuma mau ngomongin pilkada DKI yang baru usai itu.

 

Bukan rahasia lagi, kalau pilkada kali ini tumpah ruah. Segala trik, intrik dan apalah itu namanya betul-betul dikeluarkan semampus-mampusnya. Pilkada ini menggelembung, hampir meledak. Momentum yang seharusnya “hanya” jadi ajang memilih pemimpin sebuah provinsi untuk jangka waktu terbatas, melenceng menjadi ajang pertarungan gengsi sampai mati. Seperti memilih presiden saja.

 

Sialnya, orang-orang Jakarta (dan simpatisannya) bertarung seolah-olah dunia ini hanya milik mereka. Seakan tak ada mata yang melihat dari jauh. Teriakan “harus pribumi”, “ganyang cina”, “harus gubernur seagama”, disertai caci maki lainnya itu tentu tak hanya bergema di kandang sendiri. Hasrat kebencian itu dapat menyebar dan merasuk benar dalam benak pemirsanya jauh di ujung sana, terutama anak-anak.

 

Bayangkan, bagaimana anak-anak di Halmahera misalnya, ketika mendengar ada tempat ibadah di Jakarta (ibukota negara ini loh ya) yang menolak mendoakan jenazah saudara seiman hanya karena beda pilihan. Ada pula orang-orang yang disoraki saat beribadah (mau menghadap Tuhan ini loh ya) karena beda suara juga. Atau bayangkan lagi, ketika anak-anak di Manokwari mendengar sekelompok orang berpengaruh dengan segala kecerdasannya, tak sudi dipimpin orang lain yang berbeda keyakinan dengannya.

 

Tambah lagi, segala kanal informasi pun terus membakarnya atas nama rating dan bisnis.

 

Memuakkan.

 

Tapi memilih berdasarkan agama kan tetap pilihan? Jelas. Namun selalu ada penjelasan di setiap pilihan. Sayangnya, setiap informasi kini dapat dengan mudah dipotong-potong dan dikembangbiakkan. Pesan-pesan dipampatkan hingga begitu dangkalnya, sampai yang tersisa hanya soal aku atau kau. Lalu dapatkah argumen atau imaji yang hinggap di kepala mereka yang jauh sana, akan dapat diklarifikasi ataupun diluruskan?

 

Maka tidak heran, kalau di masa depan, “tanah Kristen” tetap akan jadi “milik kristen”, “tanah Islam” hanya akan jadi “milik Islam”, begitu pula Hindu, Buddha, Konghucu dan agama kepercayaan lainnya. Hanya ada aku atau kau, bukan kita.

 

Lalu apanya yang Indonesia?

 

Entahlah.