Apanya yang Indonesia?

Dua kelompok saling terjang. Dengan tangan mengepal, kaki ayam dan muka kusam, keduanya mengatur aba-aba. Lalu bergantian menyerbu. Seperti dalam adegan film hongkong, bedanya tanpa golok dan kapak. Pelakunya juga bukan preman kelab malam pun mafia narkoba. Mereka ini cuma anak-anak SD yang menghabiskan waktu istirahatnya di sekolah.

 

Anak-anak itu jelas tak serius. Seringnya aku malah dibuat tertawa. Bagaimana tidak? Mereka, dengan badan kurus dan kecil, akan berhadap-hadapan di atas lapangan pasir. Saling menunggu. Kelompok yang “menerjang” duluan akan mengejar-ngejar kelompok lain. Setelah itu, kelompok yang dikejar akan balik mengejar saat kelompok “pengejar pertama” sudah kelelahan. Begitu seterusnya. Bagai menonton ikan teri tawuran aku rasanya.

 

Jelaslah, kan mereka masih anak-anak. Cuma untuk melampiaskan energi berlebih yang tak tersalurkan di dalam kelas. Tak ada niat berkelahi sebenarnya, tapi toh tetap saja banyak “korban”. Terkadang ada yang nendang terlalu kuat. Ada yang gayanya sangar eh tapi letoy, jadinya nangis waktu jatuh. Ada pula yang kepleset waktu nendang, atau beberapa kali yang tidak ikutan malah kena tabrak. Itulah kenapa, aku langsung saja lerai saja kalau melihat mereka mulai pasang gaya. Sebab belakangan, mereka makin total saja nampaknya.

 

“Kitong mau jadi Boy, Pak!” kata Apris, kala kulerai, mewakili sebagian besar suara anak-anak yang melakukan ritual tawuran “ecek-ecek” itu. Aku terharu, anak-anak sekarang lebih memilih jadi anak jalanan ketimbang jadi Ultraman.

 

Boy, si tampan dari kota, bintang sinetron Anak Jalanan itu berhasil memikat anak-anakku di pantai timur Pulau Rote, ribuan kilometer jauhnya. Hebat kan? Sekarang bayangkan kalau anak-anak itu meniru Rizieq Shihab, atau tokoh lain yang sering mengumbar kebencian pada kaum yang berbeda pandangan dengannya.

 

Iya, sebenarnya aku cuma mau ngomongin pilkada DKI yang baru usai itu.

 

Bukan rahasia lagi, kalau pilkada kali ini tumpah ruah. Segala trik, intrik dan apalah itu namanya betul-betul dikeluarkan semampus-mampusnya. Pilkada ini menggelembung, hampir meledak. Momentum yang seharusnya “hanya” jadi ajang memilih pemimpin sebuah provinsi untuk jangka waktu terbatas, melenceng menjadi ajang pertarungan gengsi sampai mati. Seperti memilih presiden saja.

 

Sialnya, orang-orang Jakarta (dan simpatisannya) bertarung seolah-olah dunia ini hanya milik mereka. Seakan tak ada mata yang melihat dari jauh. Teriakan “harus pribumi”, “ganyang cina”, “harus gubernur seagama”, disertai caci maki lainnya itu tentu tak hanya bergema di kandang sendiri. Hasrat kebencian itu dapat menyebar dan merasuk benar dalam benak pemirsanya jauh di ujung sana, terutama anak-anak.

 

Bayangkan, bagaimana anak-anak di Halmahera misalnya, ketika mendengar ada tempat ibadah di Jakarta (ibukota negara ini loh ya) yang menolak mendoakan jenazah saudara seiman hanya karena beda pilihan. Ada pula orang-orang yang disoraki saat beribadah (mau menghadap Tuhan ini loh ya) karena beda suara juga. Atau bayangkan lagi, ketika anak-anak di Manokwari mendengar sekelompok orang berpengaruh dengan segala kecerdasannya, tak sudi dipimpin orang lain yang berbeda keyakinan dengannya.

 

Tambah lagi, segala kanal informasi pun terus membakarnya atas nama rating dan bisnis.

 

Memuakkan.

 

Tapi memilih berdasarkan agama kan tetap pilihan? Jelas. Namun selalu ada penjelasan di setiap pilihan. Sayangnya, setiap informasi kini dapat dengan mudah dipotong-potong dan dikembangbiakkan. Pesan-pesan dipampatkan hingga begitu dangkalnya, sampai yang tersisa hanya soal aku atau kau. Lalu dapatkah argumen atau imaji yang hinggap di kepala mereka yang jauh sana, akan dapat diklarifikasi ataupun diluruskan?

 

Maka tidak heran, kalau di masa depan, “tanah Kristen” tetap akan jadi “milik kristen”, “tanah Islam” hanya akan jadi “milik Islam”, begitu pula Hindu, Buddha, Konghucu dan agama kepercayaan lainnya. Hanya ada aku atau kau, bukan kita.

 

Lalu apanya yang Indonesia?

 

Entahlah.

 

Advertisements

Katakan di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s