Kepada Yesus yang Lahir (Lagi)

Kuucapkan selamat padamu. Selamat karena engkau pada akhirnya bisa terlahir kembali dengan sehat, untuk ribuan kali, di tengah ancaman aborsi dan angka kematian bayi yang tinggi. Maaf dahulu, jika kau rasakan tanahku agak panas belakangan. Ada pemilihan kepala desa di depan mata, jadi yah, senggol kiri kanan kurasa sudah biasa.

Sarapan pagimu kujamin masih sama, oh tapi ada yang berbeda sedikit kali ini. Atribut yang dulu kau kesalkan itu, kini mulai dibatasi, walaupun yah, dibatasi hanya di kalangan tertentu saja. Aneh ya, padahal kau justru tak ingin atribut konyol itu dipakai mereka yang merayakan kelahiranmu. Tapi biarlah, setidaknya pemakaiannya sudah dikurangi kan. Jangan kaku amat lah, Sus. Untuk jutaan tahun ke depan, ketampananmu tak akan terkalahkan si kakek penjual soda kok.

Tapi overall aman ya? Sip.

Aku kadang penasaran, Sus, kenapa kau memilih untuk terlahir kembali. Dinanti, terlahir, untuk kemudian disalibkan kembali. Maksudku, ketika engkau terlahir lagi hari ini, apakah sama sensasinya ketika kau terlahir pertama kali dua ribu tahun yang lalu?

Kubayangkan dulu bangsa Israel di masa kegelapannya, dan kau pun datang sebagai Mesias. Betapa agung dan eksotis kesannya. Yah walaupun akhirnya antiklimaks, toh kau tetap menganggap itu kemenangan kan?

Tapi kini? Apa yang berusaha kau selesaikan? Kini bumi telah terbukti bundar dan setiap bangsa punya permasalahan dan solusinya masing-masing. Israel masih bertahan, namun perannya sudah berbeda. Tak ada lagi orang suci, bahkan mereka yang (katanya) mendengar sabdamu dianggap gila. Jalan kebatinan kini sudah bercabang banyak sekali, pun dengan massanya masing-masing. Semua adalah jalan keselamatan. Mau mengobrak-abrik mereka seperti yang kau lakukan di Bait Allah dulu? Bisa jadi kau mati menua karena didakwa melakukan penistaan agama. Tak lucu kalau salib di rumah kami kelak diganti jeruji.

Jadi kenapa kau lahir lagi?

Coba kutebak. Gengsi? Saat kau dengar sepupu jauhmu juga turut terlahir setiap tahun, lalu kau pun tak mau ketinggalan muka hanya berdiam diri saja di atas sana?

Atau jangan-jangan sebenarnya kehidupan surgawi itu membosankan? Terlalu monoton? Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, Sus. Kalau memang cari drama, baiknya kau lahir di Aleppo saja. Kujamin kapok.

Jika bukan keduanya, lalu apa? Atau jangan-jangan masalah finansial? Aku curiga biaya operasional di surga terlalu besar hingga akhirnya kau selalu lahir untuk menggalang dana, seperti yang dilakukan organisasi non-profit lainnya.

Sebab kulihat sendiri, sang pengkhotbah menyodorkan keranjang persembahan kepada jemaatnya. Katanya, jika mereka memberi persembahan, maka kau akan ganti belasan kali. Berasa investasi. Seakan-akan kasih selalu bermakna harta. Lucunya, sang pengkhotbah memberi titah di atas panggung yang bertabur pendar lampu warna-warni, dengan jas elegan dan jam yang duhai cantiknya. Itu semua pemberianmu kah?

Kuharap bukan, Sus. Sebab sia-sia kau mati dengan cawat, kalau pada akhirnya takar iman hanya sebatas kertas.

Bukan juga karena post power syndrome kan?

Ah sudahlah.

Namun jujur, terlepas dari kecurigaanku, tetap aku bersyukur kau lahir, Sus. Lagumu yang syahdu membawaku pada kenangan masa lalu yang kurindu. Pada kertak kastangel yang matang di dalam oven. Pada nastar bertabur keju buatan ibuku.

Sekali lagi, selamat datang, Sus.

Selamat kembali.

 

 

Advertisements

One thought on “Kepada Yesus yang Lahir (Lagi)

Katakan di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s