#4 Kita dan Gedung Tua

Rentetan toko ini berkumpul dalam satu kompleks yang gelap. Tak tertata. Nampaknya masih digunakan namun seperti tanpa cinta. Mungkin biaya sewanya sendiri sudah sangat mahal, nihil laba, sehingga menambah sedikit semarak lampu-lampu justru hanya membawa sakit kepala empunya wilayah.

Adakah guna menambah gincu pada pelacur tua?

Aku berjalan lalu saja. Ada beberapa tenda menjual makanan. Sepi. Ya gila saja makan di sini. Bagai makan di mulut buaya.

Keluar aku dari situ. Kudapati jalan yang ramai dengan ragam lampu yang berlarian. Orang-orang mabuk, terperangkap dalam besi yang hidup. Aku tertegun. Tak peduli gelap dan ramai, kita hanyalah bunga yang kering madunya.

Advertisements

Katakan di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s