Musim dan Natal

Masih kuingat jelas perkenalanku dengan musim. Saat itu Bapakku sedang menyerut bambu, sembari sesekali mengukur benang, seperti pada lagu. Kertas minyak yang warna-warni dipadukan dengan bambu tipis yang handal melengkung, membentuk satu bangun datar yang sebesar diriku. Terlalu besar. Hingga satu hari dihabiskan kepayahan untuk sekedar membawanya terbang. Untuk menggenapi keberadaannya. Di musim layangan.

Di musim itu, segala petak kosong di setiap jalan akan dipenuhi orang-orang yang mendongak, berusaha untuk mengontrol layangan kebanggaan mereka. Bentuknya kurang lebih sama, tapi benangnya yang jadikan beda. Langit pun jadi arena pertempuran yang seru. Dan, Tas! Satu layangan, sang pengelana angkasa, gugur dan jalanan pun segera dipenuhi anak-anak yang berlarian menuju lokasi jatuhnya layangan sambil berteriak: Leong! Leong! Hanya anak yang cukup tangguh untuk berlari mencari, hingga kadang sampai memanjat pohon, yang berhak mendapatkannya.

Aku datang, aku kejar, aku dapat
Aku datang, aku kejar, aku dapat. Sumber Gambar: Alain Bachellier via Flickr.

Yang lain, musim patok lele namanya. Saat itu adalah dimana semua anak bermain, yah, patok lele. Berlomba cekatan dengan kayu-kayu yang seringkali diambil dari sapu yang rusak, atau dipaksa rusak. Permainan ini agak berbahaya memang, namun karena memang musimnya, jadinya tak masalah. Entah kenapa namanya patok lele, pun tak pernah kupahami.

Setelahnya, satu demi satu musim menghampiri. Adalah musim bola kasti, dimana semua anak bermain apapun-selama-masih-mengandung-bola-kasti. Musim meriam bambu, dimana tangan dan muka hitam legam. Musim berenang, dimana setiap anak nongkrong di sungai, walau setiap pulang selalu dapat kecupan rotan di betis. Selain musim-musim bermain, musim lainnya juga tak kalah asyik. Seperti musim durian, saat dimana konsumsi durian di rumah sangatlah tidak wajar. Lalu musim rambutan, musim pilem india, musim main gemot (baca: video game) dan sebagainya.

Namun yang paling menyita ruang kenangan dalam otak dari semuanya adalah musim natal.

Beruntung sekali memang setiap anak yang ibunya pintar memasak, terutama kue-kuean. Karena setiap bulan hari raya (bagiku Desember) berarti bulan memasak kue bersama. Kata “bersama” disini tentunya agak menyesatkan. Karena toh kontribusi terbesar yang kuberi saat itu cuma sebagai tukang cicip bermodalkan jempol yang mengacung. Sebagai kolektor setia artikel makanan di tabloid Nova yang tak pernah menang kuis, mamakku memang selalu jadi ujung tombak keluarga dalam menyediakan sajian menyambut Natal. Praktis jarang benar kami beli kue-kue kering yang dijual di pasar-pasar itu. Kastangel, putri salju, kembang loyang hingga nastar, dibuat sendiri, homemade sejati. Setiap Desember, rumahku jadi pabrik kue mini.

Selain membuat kue, musim natal adalah saat dimana kami membuka kardus pohon natal yang entah ditaruh dimana selama 11 bulan sebelumnya. Dicuci dahulu lalu dirangkai satu per satu. Jika setiap dahannya sudah saling terangkai, maka saatnya menyematkan bola warna-warni yang mengkilap di dahan yang cukup kuat menopang. Di kaki pohonnya ditaburi kapas, dipadukan dengan kartu-kartu natal yang sudah bertahun-tahun umurnya. Tak lupa sentuhan terakhir: Lampu natal melingkari badan pohon. Lagu melantun merdu dan musim natal pun jadilah.

Cie yang berduaan di atas pohon. Sumber gambar: US Army Garrison Red Cloud via Flickr.
Cie yang berduaan di atas pohon. Sumber gambar: US Army Garrison Red Cloud via Flickr.

Demikianlah musim identik dengan keceriaan. Dulu.

Sebab waktu berlalu dan aku semakin banyak tahu. Adalah pula musim kemarau dan penghujan. Lalu musim piala dunia. Lalu musim rambut spiky dipadukan dengan musim bergelang kaki. Musim ngerap. Musim beatbox. Musim cari pacar. Musim main dota. Musim fokus ujian. Musim poni lempar. Musim bangga jadi interisti. Musim malu jadi interisti. Musim nyerut bambu. Musim aktif berkemahasiswaan. Musim berkesenian. Hingga musim capek-ngapa-ngapain sampai-akhirnya-memilih-lulus. Demikianlah, dengan tambahnya pengalaman, musim juga beralih jadi simbol kesementaraan. Bahwa segala sesuatunya berganti. Suka atau tidak.

Perihal tidak ada yang abadi, tentu bukanlah hal besar, dan tak sepatutnya ditangisi. Namun membuat jengah ketika belakangan ini musim yang beranak-pinak selanjutnya adalah produk-produk ketololan ketidakcakapan. Tunggu saja di hari Kartini, lalu orang-orang akan menuding Kartini sebagai antek Belanda. Lihat di hari Waisak, dan segala manusia dengan libido fotografinya dengan suksesnya mengabadikan (baca: merusak dengan sengaja) keagungan ritual di Borobudur. Masa pemilu, dimana semua pohon mendadak punya muka dan etika dikesampingkan demi jadi pemenang. Musim hoax, musim fitnah dan segala musim yang kacau ini memang sementara, tapi sialnya digantikan dengan kekacauan yang kurang lebih sama.

conspiracieseverywhere

Musim natal pun tak lepas dari cengkraman kekacauan itu. Baiknya kini, setiap manusia yang punya kenangan manis akan natal hendaknya mengunduh kenangannya itu ke dalam satu perangkat keras dan menyimpannya jauh-jauh di dalam perut bumi. Agar tidak pudar karena diracuni oleh gelombang keanehan yang terjadi belakangan ini.

Bagaimana tidak? Sejak kapan merekam kegiatan natal dengan ponsel cerdas yang lebih besar dari remote AC menjadi sebuah kewajaran? Terpujilah Tuhan jika hanya satu yang melakukan, karena itu artinya tim dokumentasi sedang melakukan tugasnya, tapi lain ceritanya jika dilakukan oleh banyak jemaat. Apakah demikian tren terkini? Bisa jadi, mengingat aku lama tak ke gereja, mungkin tren berganti tanpa bisa kuikuti.

Selain itu, berharap media massa jadi tempat penawar kerinduan adalah kesia-siaan. Di musim natal, segala pemberitaan kini cenderung seputar soal apakah mengucapkan selamat natal itu haram atau tidak. Kini ada yang terbaru: Apakah menggunakan atribut Santa Klaus itu haram atau tidak. Mati kita. Rusak dunia persilatan, kata orang Medan. Tapi tentu tak semuanya begitu, selalu ada sahabat yang walau berbeda keyakinan tetap dapat menyejukkan hati. Dan kepada mereka kuucapkan terima kasih tak terhingga. Namun fakta bahwa ada sebagian orang yang lebih memilih untuk merawat sekat ketimbang akal sehat, tentu tak bisa dianggap lalu. PR kita besar, Kawan.

Maka berbahagialah mereka yang masih sempat merasakan natal bersama keluarga yang mereka cintai. Hidupilah setiap momen. Karena sesungguhnya di hari ini, kebersamaan itu langka benar. Begitu banyak orang-orang yang memaksa hidup di masa lalu, di hari Natal, hanya untuk merasakan semangat yang pernah ia kenal.

Namun segala keanehan ini bukanlah alasan untuk menjadi skeptis. Karena Natal berarti kelahiran. Sebuah pernyataan. Bahwa akan selalu ada harapan, di tengah dunia yang terus bergejolak. Sebab musim akan terus berganti, namun kasih itu abadi. Selamat menghidupi Natal! :)

Kelahiran Kristus. Sumber gambar: Wikipedia.
Kelahiran Kristus. Sumber gambar: Wikipedia.

 

Advertisements

One thought on “Musim dan Natal

Katakan di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s