Kepada Bandung

Masih kuingat jelas saat pertama kali kujejakkan kaki pada ujung jemarimu, Ndung. Saat burung-burung menyembul di antara pecahan awan di tepi cakrawala dan kerik para jangkrik semakin sayup bergema. Mataku yang terbakar panasnya debu kota terdahulu menggeliat nikmat ketika berpelukan dengan serat-serat udara yang sejuk di pagi itu. Dadaku kembang kempis, seakan ingin meraup seluruh udara segar yang kau hembuskan dari pori-pori tubuhmu. Namun tak seperti biasanya, saat itu aku tak sanggup membatu, Ndung. Kakiku seakan menyadari keberadaan kulitmu dan memaksa berjingkrak. Kurasa karena dia bisa rasakan nadimu yang berdenyut dengan perlahan, yang tak menebar ancaman.

Aku tak istimewa, Ndung. Kuyakin kau tahu itu. Aku selalu percaya kalau setiap butir keringat yang menetas melalui tubuhku adalah mata-mata Ibu Pertiwi, yang mengabarkan dengan gamblang pun rinci seluruh jejak langkahku padanya. Itulah kenapa aku yakin bahwa kau telah lebih dahulu mengenalku sebelum aku mengenalmu. Kau pasti tahu: tak kupunya piagam-piagam prestasi itu, medali-medali yang kilaunya mengimitasi mentari, maupun piala-piala yang sebesar bazooka itu. Hanya setitik ruh yang dibalut daging, juga sejumput pola pikir primitif yang menjadi modalku ketika kau menjamu, dan nyatanya, di balik semua ketidakistimewaan itu, kau masih mau menggenggam uluran tanganku. Hangat dan sejuk berjalin-berkelindan menjadi satu.

Bagi seorang perjaka yang pemalu (kadang aku masih bingung apa yang menjadi batasan seorang perjaka), kurasa kau sungguh romantis, Ndung. Layaknya seorang pecinta ulung yang sudah malang melintang dalam dunianya, kau ajari anak muda ini mencintai. Namun tak seperti di buku-buku cinta remaja maupun sinetron yang penuh tetek bengek itu, cinta yang kau ajarkan sesungguhnya unik namun terasa candu. Pada daun-daun yang bergesekan merdu, pun pada ban yang bergantian menindih jalanan, di situ ada cinta katamu. Di antara tangisan anak-anak jalanan dan bau pesing pagar taman, juga ada cinta. Di setiap titik matamu memandang, di setiap sisi telingamu mampu mendengar, hingga di tiap kepingan udara yang mampu dirasa kulitmu, disitu ada cinta, serbumu lagi.  Namun bukankah setiap kali mataku merekam tanah yang kumuh, ada jijik yang menggelitik, tanyaku. Masa ‘kan cinta merangsang jijik? Kau senyap. Tak pernah kudengar apa jawabmu. Namun aku tahu, itu bukan karena kau tak tahu, melainkan karena kau inginkan aku yang cari tahu. Biarkan keingintahuanmu yang galakkan candu cinta itu, bisikmu suatu waktu.

Namun tak butuh waktu lama bagiku untuk menguak pilu dalam hatimu. Waktu nyatanya berkhianat dan kau menua dengan cepat. Hijau yang menggoda kini telah mengeras bercampur besi. Tak terasa lagi butir-butir oksigen yang dulu menyambutku dan tanah basah yang menjadi tumpu tapak kakiku. Engkau ditambal sulam di sana dan sini. Pasrahkah engkau, Ndung? Kau yang pernah berkata bahwa cinta ada dimana-mana, hendakkah kau ralat ucapanmu? Dan, Ndung, pekikan mentari seakan menyayat kulitku, adakah itu atas ijinmu? Tak pernah lagi kudengar suaramu semenjak itu.

Dan tibalah saatnya kini ku harus pergi, Ndung. Ke tanah yang baru. Ke tempat yang katanya, tak akan ada kecupan sejuk angin di malam hari dan siraman segar embun pagi. Ke tempat dimana tikus-tikus menjilat majikannya, dan anjing-anjing memakan anaknya. Ke tempat dimana matahari berkuasa sepanjang hari, mengasah taringnya pada gedung-gedung pencakar langit. Dimana malam direnggut kelegamannya oleh lampu-lampu tak tahu diri, yang kelak akan menghalangiku memandang bintang, seperti yang dulu kulakukan di balik terali kampusku, di atas tanganmu.

Sedihkan aku, Ndung? Aku tak tahu. Jika standar sebuah kesedihan hanya mampu dinilai melalui banyaknya butiran air mata yang menguap, maka mungkin, kau bisa bilang bahwa tak sedikitpun kesedihan menaungi ragaku. Namun pertemuan kita sungguh unik, Ndung, begitu pula perpisahannya. Dan aku yakin, kesedihan seringkali tak mampu melukiskan besarnya sebuah kehilangan.

Aku hanya menyesal, Ndung, tak mampu menahan laju tuamu. Tak mampu melindungimu dari keserakahan mereka yang meneguk rakus kemolekan tubuhmu. Dan kenyataan bahwa aku harus pergi meninggalkanmu tanpa bisa berbuat banyak, membuat penyesalan itu menjadi-jadi. Aku merasa durhaka, Ndung. Namun sepertinya aku memang belum mengenalmu lebih jauh, karena toh kau tetap mengantarku dengan penuh sukacita, seakan-akan aku adalah sang juara, sama seperti kau menyambutku dulu. Adilkah itu, Ndung? Kau semakin menyiksaku dengan teduhnya senyummu itu.

Mungkin kita akan bertemu kembali, Ndung. Lima, sepuluh, atau seratus tahun lagi bisa jadi. Mungkin juga tak akan bertemu kembali. Kepergianku memang masih tak berkalungkan medali maupun piala-piala pencakar langit. Namun percayalah, Ndung, tak ada perjumpaan yang sia-sia. Kau telah ajari anak muda ini mendefinisikan cita-citanya, hingga mampu meruntun jalannya sendiri, dan itulah alasannya kenapa aku harus meninggalkanmu, Ndung. Mungkin perpisahan ini juga sudah kau tebak, saat kau mulai ajarkan aku cara mencintai. Anehnya, tak sedikitpun kau berharap pamrih atas pembelajaran yang kau beri. Malah, kau berikan aku benih, yang kelak harus kutaburkan di tempat aku berjalan, agar setiap ruang bisa menjadi sepertimu. Karena kau tak ingin menjadi yang satu-satunya indah. Sungguh, Ndung, jiwamu besar sekali.

Mari berpisah, Ndung, sampai jumpa lagi. Semoga kelak ketika kita bertemu nanti, kau kembali berkilau di antara zamrud khatulistiwa dan kolammu yang jernih masih menjadi tempat berkumpulnya bidadari yang membasuh diri.

 

Terima kasih, Ndung. Terima kasih sekali.

Salam Hangat.

Advertisements

4 thoughts on “Kepada Bandung

  1. sampai nanti ketika giliran saya yang akan menorehkan kata-kata seperti Bung! yang satu ini. “tidak ada perjumpaan yang sia-sia”. seperti, kita ingin berujar, “tidak ada kebetulan di dunia ini, Tuhan sudah membuat skenarionya, kita yang jalankan”. sukses, Bung!

Katakan di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s